Meskipun berbagai media berupaya menyembunyikan agar umat tidak mengerti tentang perubahan yang sesungguhnya, yang tidak mungkin terjadi kecuali dengan Islam; meskipun berbagai media berupaya untuk memalsukan revolusi negara-negara Arab yang diberkati, dan hanya memperlihatkan karakter sekulerisme, yang semuanya menuntut sebuah negara sipil atau demokrasi; serta upaya berbagai media untuk memadamkan sisi terang dari revolusi ini, yang tercermin dalam langkah praktis untuk mengakhiri kekuasaan tiran dan keinginan untuk mendirikan Khilafah, namun demikian suara Khilafah dan seruannya terus menerobos ke dalam kaum Muslim, para pengamat dan para politisi Barat, sehingga Khilafah menjadi buah bibir masyarakat umum dan para politisi, sekalipun itu tidak dilakukan secara terbuka, sebab semangat pemadaman dan penyembunyian terhadap cahaya terang Khilafah ini merupakan sikap utama bagi berbagai media.
Sejak percikap api pemberontakan menyala di Tunisia al-Hadra’, yang kemudian diikuti oleh revolusi di Mesir, Libya dan Yaman, kami melihat berbagai media senantiasa menyembunyikan pemandangan besar dan berbagai gerakan massa yang menyerukan pada perubahan yang sesuai dengan Islam, dan pendirian Khilafah, serta menyerukan untuk membuang jauh ketergantungan dan hubungan dengan kekuatan penjajahan Barat. Buruknya lagi, penyembunyian yang dilakukan oleh media ini disusul dengan upaya memalsukan fakta dan berbagai pencapaian revolusi. Tentu semua ini dilakukan dalam rangka mendukung agenda asing.
Terkait fakta yang mengungkapkan adanya seruan untuk membuang ketergantungan dan beralih pada Islam dalam revolusi ini, tampak dalam berbagai pernyataan yang berulang kali disampaikan oleh para pemimpin Barat, Amerika, Eropa dan Yahudi, di mana mereka sangat ketakutan akan kemungkinan berdirinya negara Islam yang akan mengganggu keseimbangan kekuasaan dan mengubah arah sejarah. Pernyataan tentang ketakutan ini telah disampaikan oleh Clinton, Cameron, Ashkenazi, Netanyahu dan Berlusconi. Bahkan media-media besar Barat seperti Fox News dan The Independent, semuanya telah membicarakan tentang ketakutan para politisi Barat terhadap revolusi ini dan pendirian Khilafah, serta implikasinya bagi Barat dan dunia.
Mengingat kuantitas ketakutan yang luar biasa, maka hal ini memaksa Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa untuk mengeluarkan pernyataan untuk menenangkan kecemasan Barat dan meredakan badai ketakutan .
Subhanallah, sekalipun media telah berusaha keras untuk menyembunyikannya, namun suara-suara dukungan terhadap Hizbut Tahrir di tengah-tengah kaum Muslim meningkat pesat terkait seruannya untuk menegakkan Khilafah, dan telah banyak pihak yang berusaha mewujudkannya, serta mereka yang telah mendedikasikan semua tenaganya selama puluhan tahun untuk menegakkan kembali Khilafah.
Di Tunisia, masîrah (long match) berlangsung di jalan-jalan “lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah … lâ dimoqrâthiyyah wa wathaniyyah … bal khilâfah Islâmiyyah, bukan Timur dan bukan pula Barat … bukan demokrasi dan bukan pula nasionalisme … melainkan Khilafah Islamiyah”. Namun peristiwa-peristiwa ini diabaikan oleh media, meskipun gambar-gambar masîrah (long match) tersebut telah mewarnai halamam jaringan internet, dan melalui Facebook khususnya. Akan tetapi, semua peristiwa yang mencerminkan denyut nadi umat ini tetap disembunyikan oleh media.
Di Mesir ada suara-suara lantang yang diabaikan media, khotbah-khotbah Jum’at, channel-channel TV keagamaan, dan kelompok massa yang menyerukan penerapan Islam di Lapangan Tahrir, di berbagai pusat diskusi di kota Alexandria, dan wilayah-wilayah Mesir lainnya. Dalam hal ini, sekali lagi media menutup diri, baik dengan alasan maupun tanpa alasan.
Di Libya, berlangsung seruan-seruan untuk penerapan Islam, meskipun Gaddafi melancarkan kampanye untuk merusak citra Negara Islam, dan selalu mengaitkan dengan berbagai aksi kekerasan. Bahkan para pemimpin entitas Yahudi mengatakan bahwa karakter revolusi di Libya adalah karakter Islam .
Di Yaman, berlangsung seruan-seruan para ulama, dan kabar gembira akan kembalinya Khilafah. Bahkan ada beberapa kota yang telah diwarnai dengan kibaran bendera al-Uqab, yaitu al-Liwa’ dan ar-Rayah. Dan inilah yang mendorong media-media lokal dan Arab untuk membuat judul: “Yaman berada di pinggiran “Khilafah Islam”, dan “ar-Rayah” telah berkibar di atas sekolah-sekolah di Aden”.
Sekalipun media-media berusaha keras untuk menyembunyikan dan menutupinya, namun seruan perubahan atas dasar Islam tetap merupakan aspirasi umat yang sesunguhnya, yang mendorongnya untuk bergerak, dan meraih harapan masa depan yang cerah. Sekalipun jalan untuk mengetahui semua berita itu masih merupakan ruang sempit, melalui jaringan internet, serta kontak-kontak yang dinamis dan terencana.
Sesungguhnya usaha pemboikitan dan penyembunyian yang dilakukan oleh berbagai media ini adalah dalam rangka untuk melayani agenda asing, yaitu membajak dan memaksa media untuk mencuri kerja keras umat dan pengorbanannya. Hanya saja umat telah melakukan perlawanan atas siapa saja yang menekannya dan merampas kekuasaannya. Sehingga tidak diragukan bahwa umat tidak akan pernah tertipu lagi oleh siapa saja yang berusaha menyesatkannya.
Allah SWT berfirman: “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membencinya.” (TQS. Ash-Shaff [61] : 8-9).
Selengkapnya...
Minggu, 13 Maret 2011
Seruan Khilafah Bermunculan di Tengah Revolusi Arab Menerobos Berbagai Penghalang Media
Rabu, 09 Maret 2011
Min adz-Dzulumaati ilaa an-Nuur (Habis Gelap Terbitlah Terang)
Tanggal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Sebagian banyak masyarakat beranggapan, Kartini memperjuangkan Emansipasi, Feminisme, Liberalisme, dll. Nama Kartini mereka jadikan legalisasi atas apa yang mereka lakukan. Benarkah Kartini pejuang emansipasi dan feminisme? Atau tidak ada hubungannya sama sekali? Maka kita perlu meninjau kembali perjuangan Beliau.
Kartini besar dan belajar di lingkungan adat istiadatserta tata cara ningrat jawa, feodalisme, ia hanya boleh bergaul dengan orang-orang Belanda atau orang-orang yang terhormat dan tidak boleh bergaul dengan rakyat. Kartini tidak menyukai lingkungan yang demikian, ini terlihat dari isi suratnya yang ditujukan kepada Stella, tanggal 18 Agustus 1899 diantaranya: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan, semua itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja”
Kartini mendobrak adat keningratan, karena menurutnya setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Itu beliau lakukan pada masa dimana seseorang diukur dengan darah keningratan. Semakin biru darah ningratnya semakin tinggi kedudukannya. Ini terlihat dalam suratnya pada Stella pada tanggal 18 Agustus 1899: “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!”
Kartini berupaya untuk memajukan kaum wanita dimasanya (masa penjajahan). Pada saat itu wanita tidak mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki, mereka dinomor duakan, bahkan dalam segala aspek kehidupan. Perjuangan Kartini tidaklah berarti untuk menyaingi laki-laki, namun memberi kontribusi bagi perbaikan masyarakat Cita-citanya ini diungkapkan melalui suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, pada tanggal 4 Oktober 1902: “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Selain itu juga dapat di lihat dari suratnya kepada Nyonya Abendanon, 4 September 1901: “Pergilah! Laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik (haq) dan mana yang jahat (bathil). Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi”. Dengan demikian, perjuangan Kartini bukan hanya untuk kepentingan wanita, namun jauh lebih luhur lagi adalah bagi perbaikan tatanan kehidupan.
Pada awalnya, perjuangan Kartini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, namun pada dasarnya ia tidak memperjuangkan dan tidak menginginkan emansipasi dan feminisme. Keterpengaruhannya oleh pemikiran-pemikiran yang berasal dari luar Islam, dikarenakan ia belum memahami Islam secara benar. Ia mengaji dan membaca Alqur’an tetapi tidak dapat memahai isinya, sehingga ia tidak bisa merealisasikan di dalam kehidupannya. Kartini merasa kecewa dan ini diungkapkan pada suratnya yang ditujukan kepada Abendanon, tertanggal 15 Agustus 1902 : “Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang aku tidak tahu apa perlunya dan apa manfatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al qur’an, belajar menghafalkan perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Dan jangan-jangan ustadz dan ustadzahku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya”.
Selain itu Kartini memang banyak bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, seakan-akan mereka adalah orang yang ingin menolong Kartini, namun sebenarnya mereka adalah musuh dalam selimut. Mereka adalah Mr.J.H. Abendanon (memperalat Kartini untuk membaratkan gadis-gadis bumiputera saat itu, ia adalah teman Snouck Hurgronye, (orientalis Yahudi) dan istrinya; Dr. Adriani (sahabat pena Kartini, seorang ahli bahasa dan pendeta yang misinya menyebarkan agama Kristen di suku Toraja), Anni Glasser (Pengajar privat Kartini yang dikirim Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini, Stella (sahabat pena Kartini, wanita Yahudi, anggota militan Pergerakan Feminisme di Belanda), Ir. H. Van Kol (seorang insinyur, ahli dalam masalah-masalah kolonial, ia mendukung Kartini sekolah ke Belanda untuk menjadikannya saksi hidup akan kebobrokan pemerintahan Hindia Belanda di tanah jajahan hingga dapat memenangkan partainya (Sosialis) di Parlemen), dan Ny. Van Kol (yang berusaha mengkristenkan Kartini).
Tetapi, Kartini diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki dirinya, Ia bertemu dengan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Lewat Kyai ini, Kartini terbuka pikirannya dan meminta diajarkan agama dengan mempelajari Al Qur’an dengan cara yang dapat ia mengerti. Kemudian Kyai Sholeh Darat memberikan Al Qur’an yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa pada hari pernikahannya (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’an) jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah saat itu, Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Namun tidak berlangsung lama, karena Kyai Sholeh Darat meninggal dunia sebelum ia menyelesaikan terjemahan Alqur’an tersebut.
Pengaruh agama Islam ternyata sangat kuat membentuk dirinya dan merubah cara pandangnya kepada Barat, ini dapat terlihat pada surat-suratnya: “Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 5 maret 1902).
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa yang kebarat-baratan” (Ditujukan kepada Ny Abendanon, 10 Juni 1902).
“Moga-moga Kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai” (ditujukan kepada Ny Van Kol, tgl 21 juli 1902).
“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902).
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (ditujukan kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).
“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka Kristenisasi????. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya“ (ditujukan kepada Abendanon, 31 Januari 1903).
“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903).
“Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).
Pada saat Kartini mempelajari Al Qur’an melalui terjemahan berbahasa jawa, Kartini menemukan dalam surat Al Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:
“Allah Pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka ialah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”.
Maknanya: bahwa Allah lah yang telah membimbing orang-orang yang beriman dari kegelapan kepada cahaya (Min adz-Dzulumâti ila an-Nûr). Kartini sangat terkesan dengan ayat ini. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak mengulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya, yang olehnya ditulis dalam bahasa Belanda dengan Door Duisternis tot Licht. Kemudian makna ini bergeser tatkala Armijn Pane menerjemahkan kata Door Duisternis tot Licht dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kalimat ini sedikit demi sedikit telah menghilangkan makna yang dalam, karena diambil Kartini dari pemahamannya akan ayat Al qur’an, menjadi sesuatu yang puitis namun tidak memilik arti ruhiyyah.
Selanjutnya perjuangan Kartini, banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia, dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan Feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Sehingga, muncul persepsi bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan dengan menggunakan nama Kartini. Namun sayang, perjuangan wanita Indonesia kebanyakan telah menyimpang dari perjuangan Kartini, mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita. Tanpa mereka sadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme–Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita-wanita itu sendiri, bahkan membawa kehancuran bagi masyarakat dan negaranya. Hal ini disebabkan, mereka meninggalkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumah tangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Mereka telah terbelenggu kepada perjuangan yang bersifat individual dan semata-mata mendapatkan kemaslahatan.
Disinilah menjadi suatu keharusan, untuk meluruskan peran wanita (khususnya muslimah) dalam usaha untuk mengembalikan kehidupan yang hakiki yang didasarkan kepada Islam sebagai dîn yang Syamil dan Kamil. Perjuangan muslimah untuk kebangkitan ummat yang hakiki tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dengan laki-laki, karena untuk mewujudkan masyarakat Islam, dimana di dalam masyarakat itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengharuskannya berjuang bersama-sama, tidak terpisah-pisah dan bersaing satu sama lain.
Selain itu, perjuangan muslimah tidak hanya untuk skala Indonesia saja, karena umat Islam itu satu tubuh dan syari’atnya satu, nabinya satu dan Tuhannya satu. Sehingga, seharusnya target penegakan masyarakat yang Hakiki, adalah untuk seluruh ummat di dunia. Indonesia adalah salah satu tempat untuk mewujudkan terjadinya kebangkitan ummat yang hakiki, dengan didasarkan kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sehingga menjadi suatu hal yang penting, muslimah bersama dengan laki-laki muslim bergerak dalam satu gerakan, yang memilik kejelasan pemahaman tentang pemikiran-pemikiran Islam (fikrah) dan metode (thariqah) untuk mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki yaitu kebangkitan Islam untuk diterapkan hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Selain itu, aktivitas muslimah untuk terlibat mewujudkan kebangkitan yang hakiki jangan sampai meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan fungsi utamanya sebagai ummun wa robbatul bait. Disinilah dituntut bagi muslimah, untuk mampu mengatur diri dan melaksanakan konsep aulawiyyat (prioritas) dalam aktivitasnya, sehingga tidak membawa kemudhorotan bagi diri, keluarga, masyarakat dan negaranya. Semoga tulisan ini dapat membantu para muslimah untuk dapat ikut berjuang mewujudkan kebangkitan ummat yang hakiki, tentu bersama dengan keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Amîn.
Selengkapnya...
Sabtu, 05 Maret 2011
Mengapa Demokrasi Tidak Akan Populer di Dunia Arab

Hari ini dunia sedang mengamati dunia Arab - dari Maroko hingga Yaman - sambil meraba-raba jalan menuju perubahan… seperti apakah itu? Dua orang tiran telah digulingkan dan yang ketiga sedang tertatih-tatih di tepi jurang. Pemerintahan Feodal Monarki pasca era penjajahan dan diktator militer sedang runtuh. Tapi hanya seorang optimis yang kecanduan taruhan Prozac yang akan bertaruh pada munculnya apa pun yang menyerupai gaya demokrasi Barat dari pergolakan revolusioner yang terjadi saat ini.
Dimanapun demokrasi telah diterapkan di dunia Arab, sejauh ini hasilnya suram. Bahkan intervensi militer skala penuh oleh Amerika Serikat yang didukung dengan uang miliaran dolar pun selama hampir delapan tahun, hanya dapat menciptakan pemerintah terpilih yang paling rapuh di Irak. Di tempat lain, pemilihan umum malah telah meningkat kekuatan organisasi-organisasi Islam seperti Hamas dan Hizbullah daripada membuatnya lemah. Mengapa hanya Afrika Utara dan Timur Tengah yang tertinggal jauh di belakang dibandingkan bagian lain di dunia dalam membuat masa transisi menuju demokrasi? Sebagian besar wilayah Asia (Cina adalah pengecualian besar) telah melakukannya. Demikian juga sebagian besar negara-negara Amerika Latin.
Jawaban yang mungkin tergesa-gesa untuk pertanyaan itu adalah “Islam”. Tapi jawaban ini tidak akan cukup. Dunia Muslim tidak selalu menjauhi Barat. Bukan hanya semangat keagamaan yang memungkinkan para penerus Nabi Muhammad untuk mendirikan sebuah Kekhalifahan yang, pada pertengahan abad kedelapan, membentang dari Spanyol, tepat di seberang Afrika Utara, hingga ke jantung Saudi Arab , lalu ke utara di Kaukasus, kemudian ke arah timur melintasi Persia dan ke Afghanistan - dari Toledo hingga ke Kabul.
Para Khalifah Abbasiyah merupakan ujung tombak ilmu pengetahuan. Di Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) yang didirikan di Baghdad pada abad kesembilan, teks-teks Yunani karangan Aristoteles dan para penulis lain diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kekhalifahan ini juga menghasilkan apa yang sebagian orang anggap sebagai rumah sakit yang benar yang pertama , seperti halnya Bimaristan yang didirikan di Damaskus oleh Khalifah Abdul al-Waleed bin Malek tahun 707, yang dirancang untuk menyembuhkan para pasien bukan sekedar rumah bagi orang-orang yang sakit.
Itu juga rumah yang oleh sebagian orang anggap sebagai lembaga pendidikan pendidikan tinggi sejati yang pertama, Universitas Al-Karaouine, yang didirikan di Fez pada tahun 859. Dengan berlandaskan pengetahuan Yunani dan terutama India, matematikawan Muslim menjadikan Aljabar (dari bahasa Arab al-Jabr, yang berarti “pemulihan/restorasi”) sebagai suatu disiplin ilmu yang berbeda dari aritmatika dan geometri. Ilmuwan eksperimental sejati yang pertama adalah seorang Muslim: Abu al-Hasan Ali ibn ibn al-Hasan al-Haytham (965-c.1039), yang karyanya terdiri dari tujuh jilid Kitab Optik yang telah menjungkirbalikkan sejumlah kesalahpahaman kuno, terutama gagasan bahwa kita dapat melihat benda karena mata kita memancarkan cahaya.
Hutang Barat kepada dunia Muslim abad pertengahan, baik atas ilmu pengetahuan klasik dan generasi pengetahuan baru dalam kartografi, kedokteran dan filsafat maupun matematika dan optik. Selain itu, kaum Muslim berhasil membangun salah satu emperium yang paling mengesankan dari semua emperium dunia: Emperium Ottoman.
Emperium Ottoman yang adalah sebuah dinasti Anatolia yang didirikan di atas reruntuhan Emperium Bizantium merupakan pembawa standar Islam setelah penaklukan mereka atas Konstantinopel pada tahun 1453. Emperium mereka menyebarkan Islam ke wilayah Kristen hingga sekarang - tidak hanya Bizantium kuno di kedua sisi selat Laut Hitam, tetapi juga Bulgaria, Serbia dan Hongaria. Setelah memperluas pemerintahan Ottoman dari Baghdad hingga Basra, dari Van di Kaukasus hingga Aden di mulut Laut Merah, dan sepanjang Pantai Barbary dari Aljazair hingga Tripoli, Suleiman the Magnificent (1520-1566) secara sah bisa mengklaim: “Saya Sultan Sultan … adalah bayangan Allah di atas bumi. ”
Jadi - dengan mengajukan pertanyaan terkenal oleh sejarawan Bernard Lewis - apa yang salah? Yah, mungkin pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang benar bagi kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang di Eropa Barat. Entah bagaimana, mereka menghasilkan sebuah peradaban yang mampu mengalahkan semua Emperium Oriental besar, belum lagi dengan menaklukkan Afrika, Amerika dan Australasia.
Pada tahun 1500 kekuasaan emperium masa depan Eropa telah menyumbang sekitar 10 persen dan hampir 16 persen penduduknya dari populasi dunia ketika itu. Menjelang tahun 1913, 11 emperium Barat mengkontgrol hampir tiga-perlima semua wilayah dan penduduk dan lebih dari tiga-perempat output ekonomi global. Emperium Ottoman pada saat itu menjadi bayangan pucat dirinya sendiri dari sebelumnya. Pada akhir Perang Dunia Pertama Emperium itu telah runtuh.
Dalam Civilization (Peradaban), seri baru Channel 4 dan buku saya, saya berpendapat bahwa apa yang membedakan Barat dari yang lainnya - dari sumber-sumber utama kekuatan global - adalah enam gagasan besar: persaingan, ilmu, hak milik, obat-obatan; masyarakat konsumen, dan etos kerja . Untuk menggunakan bahasa komputer dunia saat ini, dunia yang tersinkronisir, hal itu merupakan enam aplikasi pembunuh - yang, bila digabungkan, dapat menjadikan minoritas umat manusia, yang berasal di tepi barat Eurasia, untuk mendominasi dunia untuk lebih baik selama 500 tahun.
Dunia Islam setidaknya tidak mampu men-‘download’ beberapa dari aplikasi-aplikasi itu. Pergilah ke Istanbul pada hari ini dan Anda akan menemukan suatu ekonomi yang sangat dinamis dan kompetitif. Pergilah ke Teheran dan sebenarnya Anda akan bertemu -, mungkin juga tidak - dengan para ilmuwan yang mampu memperkaya uranium. Pergilah ke Dubai dan Anda akan melihat rumah yang penuh karya seni dan pusat-pusat perbelanjaan yang berkilauan. Tapi aplikasi pembunuh ke tiga dan ke enam - hak milik dan etos kerja - lebih atau kurang terlihat. Pengangguran dan pengangguran terselubung yang sangat tinggi di sebagian besar dunia Muslim. Dan ada beberapa tempat di mana lebih sulit untuk menetapkan status hukum yang aman pada milik pribadi, atau untuk memulai bisnis baru, dari pada di Mesir.
Kelemahan hak milik adalah bagian dari alasan kinerja ekonomi yang buruk di negara-negara Arab. Tetapi juga merupakan penyebab utama kegagalan demokrasi. Hal itu karena demokrasi cenderung hanya dapat berjalan di masyarakat yang telah meletakkan dasar-dasar yang tepat: suatu properti substansial -yang memiliki masyarakat kelas menengah dan masyarakat madani yang berkembang dengan baik dan berkumpul dengan bebas, partai-partai politik yang bebas dan pers yang bebas.
Masalah di dunia Arab tidak hanya karena umat Islam tinggal di sana. Masalahnya adalah bahwa di mana Barat memimpin, Timur Tengah - sejauh ini - gagal untuk mengikutinya. (thisislondon.co.uk, 1/3/2011)
Selengkapnya...
Minggu, 01 November 2009
NASIONALISME VS IDEOLOGIS
ering kita dengar kata Nasionalisme, dalam berbagai hal. Sejak kita duduk di bangku SD kata-kata ini sudah dilantunkan kepada kita. Tentu kita masih ingat saat masih menjadi siswa ( SD,SMP & SMA/SMK), setiap hari senin diwajibkan mengikuti upacara bendera yang katanya untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Dan tentu juga pada saat ada pelajaran PPKN kita senantiasa “dicekokin” kata-kata nasionalisme. Betul tidak??? Namun sadarkah kita perlu tidakkah NASIONALISME dalam hidup kita. Yuk kita bahas…
Ikatan kebangsaan (Nasionalisme) tumbuh ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempat dimana mereka hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tumbuhnya ikatan nasionalisme, yang tergolong ikatan yang paling lemah dan rendah nilainya. Ikatan ini tampak juga dalam dunia binatang serta burung-burung, dan senantiasa emosional sifatnya. Ikatan semacam ini muncul ketika ada ancaman dari pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Tetapi bila suasananya aman dari serangan musuh atau musuh tersebut dapat dilawan dan diusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini. Oleh karena itu ikatan ini rendah nilainya.
Hal ini menjelaskan mengapa generasi sekarang sangat lemah rasa nasionalismenya. Mengapa? Jawabannya karena Indonesia masih aman, coba Indonesia mengalami seperti yang dialami Palestina saya yakin dari tukang becak sampai pengusaha, dari preman sampai presiden akan mati-matian berjuang bersama. Contoh yang sangat nyata lemahnya ikatan ini antara lain para koruptor yang “terhormat” ( semoga Allah senantiasa memberi hidayah sehingga mereka mau bertobat sebelum terlambat) yang sedang duduk santai di senayan “ sang penghianat bangsa”. Mereka contoh nyata lemahnya ikatan nasionalisme. Saya yakin sewaktu mereka masih di bangku sekolah mereka mendapatkan doktrin nasionalisme tapi apakah mereka sekarang memikirkan bangsa ini! Yang mereka pikirkan hanya perut mereka. Kenapa, bukan karena mereka tidak punya rasa nasionalisme melainkan karena Indonesia masih aman sehingga kekuatan ikatan ini sangat lemah sehingga tidak mampu mendorong hati mereka untuk memperjuangkan rakyat. Contoh yang lain kasus Poso, dimana begitu banyak Muslim yang mati apakah penduduk daerah lain ikut membantu, bahkan pemerintahpun tidak mampu mencegah hal itu. Ini menunjukkan ikatan nasionalisme tidak dapat menyatukan manusia secara permanent hal ini dikarenakan sifat dari ikatan ini hanyalah temporal/sementara. Ikatan ini hanya tumbuh saat ada ancaman dari luar yang mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat negeri tersebut.
Ikatan ini tidak layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya, untuk meraih kebangkitan dan kemajuan. Ikatan yang benar untuk mengikat manusia dalam kehidupannya adalah aqidah aqliyah ( aqidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Inilah yang disebut sebagai ikatan ideologis( berdasarkan suatu mabda/ideology). Ideology adalah aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan hidup ;serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, disamping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan yang lahir dari aqidah tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengemban ideology.
Dikarenakan ikatan ini berdasarkan aqidah aqliyah, ikatan ini tidak terkekang oleh tempat, suku dan bangsa. Dapat dilihat pula ikatan ini tidak hanya tampak pada saat ada ancaman dari pihak luar melainkan pada saat keadaan aman ikatan ini mampu mengikat manusia. Sebab bangkit dan majunya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum alam kehidupan, dan sesudah kehidupan dunia.
Sebagai contoh nyata dapat kita lihat saat Palestina mendapat serangan dari Israel, bagaimana reaksi umat Islam dunia bahkan di Indonesia ada yang ingin berangkat untuk ikut jihad. Ikatan seperti apa yang mampu mendorong mereka seperti itu tak lain adalah ikatan yang didasarkan aqidah aqliyah(ikatan ideology). Jelas ikatan ini tidak terkekang oleh perbedaan suku, budaya,ras bahkan wilayah. Seharusnya ikatan inilah yang mengikat manusia bukan ikatan kebangsaan.
Selengkapnya...
Selasa, 17 Februari 2009
light of hope never die
Cahaya harapan takkan mati( bhs jawanya light of hope never die). Apa bener? kenyataannya banyak orang bunuh diri akibat frustasi, seperti diputus pacar, phk, pusing karena utang dll. Ini kan suatu tanda bahwa orang tersebut putus asa atau sudah kehilangan harapan. Jadi istilah diatas ga bener dong.
Permasalahan sebenarnya bukan ada atau hilangnya harapan tersebut melainkan masihkah di hati kita ada harapan. aQ mengartikan harapan itu adalah suatu keadaan yang kita sandarkan kepada sesuatu dimana kita tidak mempunyai kuasa untuk mewujudkannya. Kesimpulannya kita tidak bisa memastikan keadaan tersebut sesuai yang kita pikirkan. Misal bila orang yang kita sayangi sakit ,so pasti kita menginginkan dia cepat sembuh. Namun kita tidak bisa mengondisikan keadaan tersebut sesuai keinginan kita. Bisa saja dia sembuh atau mungkin juga hal lain yang terjadi. Seperti itulah gambaran harapan, kita hanya menyandarkan keadaan itu kepada sesuatu yang punya kekuasaan untuk mengatur semua hal. Lalu apakah sesuatu itu ? sesuatu itu adalah Allah SWT yang Maha Kuasa atas bumi dan langit, yang Maha Tunggal, yang Maha Abadi.
Dialah tempat kita menggantungkan segala sesuatu.
Bila kita memahami perkara ini maka takkan ada lagi gelisah ,khawatir , kesedihan dalam hidup ini. Takkan da rasa putus asa dalam keadaan sesulit apapun. Semangatnya akan terus berkobar dalam menjalani hidupnya karena ia gantungkan segala sesuatu kepada Dzat Yang Maha Kuasa.
Kebenaran adalah milik Allah SWT dan bila ada yang salah dari tulisan ini datangnya dari penulis yang tak mungkin luput dari salah dan lupa
Selengkapnya...
